Kamis, 31 Mei 2012

ancaman tradisional dan non tradisional


ANCAMAN TRADISIONAL
DAN
ANCAMAN NON-TRADISIONAL
Ancaman tradisional yaitu ancaman dari dalam negeri.
Contoh gerakan separatis, dan terorisme .

Ancaman non tradisional yaitu ancaman dari negara lain .
Contoh penjajahan, dan spionase .
Ancaman tradisional dan non tradisional, perlu dipahami bahwa ancaman non
tradisional sewaktu-waktu dapat bertransformasi menjadi ancaman tradisional.
Dalam Buku Putih ada kesan bahwa ancaman non tradisional dipahami tidak dapat bertransformasi menjadi ancaman tradisional.
Bila memang pemahaman seperti ini memang eksis, tentu saja kita harus menarik pelajaran dari operasi militer
Amerika Serikat di Afghanistan. Pada mulanya, masalah terorisme adalah sebuah ancaman non tradisional. Namun dalam kasus Afghanistan, hal itu kemudian bertransformasi menjadi ancaman tradisional karena pemerintahan di sana dinilai tidak mampu menangani Osama Bin Laden dan kelompok teroris Al Qaeda, bahkan melindunginya. Amerika Serikat memandang kebijakan pemerintah Afghanistan saat itu sebagai mengancam kepentingannya sehingga kemudian menggelar war on terrorisme di Afghanistan. Dalam kasus di Indonesia, ancaman non tradisional seperti pembajakan di laut (piracy) sangat mungkin dapat berubah menjadi ancaman tradisional bagi negara maju bila Indonesia tidak dapat memberikan jaminan keamanan laut di wilayah Nusantara. Apabila kondisi demikian terjadi, maka kekuatan militer asing akan menggelar operasi di perairan teritorial Indonesia. Bagi Indonesia hal tersebut akan dipandang sebagai agresi sehingga harus dilawan dalam segala bentuk seperti militer, diplomatik maupun hukum.
Diakui, dalam kerangka Confidence Building Measures sangat tidak mungkin untuk menunjuk kepada negara-negara tertentu sebagai ancaman. Meskipun 1-5 tahun ke depan Indonesia tidak menghadapi ancaman militer, tetapi kini urusan keamanan adalah urusan yang tak dapat diprediksi (unpredictable business).
Paling tidak, negara-negara yang mempunyai intensitas dan kapabilitas di sekitar Sabuk Pasifik dapat memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang mempunyai konsep pertahanan yang bertumpu pada pertahanan berjenjang (defense in depth) di mana menempatkan Indonesia sebagai negara yang mempunyai kedaulatan yang berbasiskan perairan serta dengan pulau yang bertebaran (PertahananNusantara).
Terlalu Berorientasi Darat Kelima, improper of defense strategy.


HUMAN SECURITY :  keamanan yang berorientasi pada kesejahteraan manusia, terdiri dari keamanan fisik, ekonomi, sosial, menghormati martabat manusia, perlindungan dan kebebasan dasar setiap manusia (HAM; PBB 1945).
Komponen yang mengancam kesejahteraan manusia:
  • ancaman terhadap hak hidup;
  • ancaman terhadap hak kesehatan;
  • ancaman terhadap keamanan personal ;
  • ancaman terhadap hak ekonomi;
  • ancaman terhadap kehormatan dan martabat manusia.
Berbagai ancaman diatas dikategorisasikan sebagai ‘non-traditional security threat’ (ancaman keamanan non-tradisional) dan saling terkait. 
Ancaman terhadap keamanan/hak kesehatan:
Menyebarnya penyakit infeksi dan menular (seperti malaria, tbc, HIV/AIDS), hunian yang padat dan tidak memenuhi kriteria hidup sehat (hidup dalam perumahan kumuh, pengungsian, dampak  kebanjiran, gizi buruk dan kelaparan).
Usaha dalam bela negara bisa saja dilakukan oleh siapa pun. Artinya, profesi apapun bisa ikut serta dalam usaha bela negara. Contohnya, kamu sebagai pelajar. Pengabdian yang dapat dilakukan adalah berprestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat. Upaya bela negara dan pertahanan keamanan negara ditujukan mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai mem bahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. Bentuk ancaman ada dua, yaitu ancaman militer dan nonmiliter. Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 2002, ancaman militer adalah sebagai berikut.
a. Agresi oleh negara lain dengan kekuatan senjata.
b. Pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh negara lain, baik menggunakan kapal maupun pesawat nonkomersil.
c. Spionase yang dilakukan negara lain untuk mencari dan men dapatkan rahasia militer.
d. Sabotase untuk merusak instalasi militer dan objek vital nasional.
e. Aksi teror bersenjata yang dilakukan jaringan terorisme inter nasional atau bekerja sama dengan terorisme dalam negeri.
f. Pemberontakan bersenjata.
g. Perang saudara antara kelompok bersenjata dan kelompok ber senjata lainnya.
Ancaman militer tersebut dihadapi oleh TNI sebagai kekuatan utama, sedangkan ancaman nonmiliter unsur utamanya adalah lembaga pemerintah di luar lembaga pertahanan sesuai dengan sifat dan bentuk ancaman. Dilihat dari sifatnya, ancaman terhadap bangsa dan negara ada dua, yaitu ancaman tradisional dan nontradisional.
Ancaman tradisional dapat berbentuk kekuatan militer negara lain berupa agresi atau invasi yang membahayakan keutuhan bangsa dan negara.
Ancaman nontradisional dilakukan oleh oknum atau perse orangan berupa aksi teror, perompakan, pembajakan, penye lundupan, imigrasi gelap, perdagangan narkotika, penangkapan ikan secara ilegal, serta pencurian kayu (illegal logging).
Oleh karena itu, setiap warga negara tanpa kecuali sesuai kedudukannya memiliki hak dan kewajiban untuk turut serta dalam upaya bela negara. Misalnya, siswa dan mahasiswa mengikuti upaya bela negara melalui pendidikan kewarganegaraan. Selain itu, TNI, Polri, dan masyarakat sipil secara bersama-sama menghadapi ancaman sesuai dengan keahliannya.

3 komentar:

  1. agar disampaikan referensi yang anda gunakan untuk membuat pengertian dari ancaman tradisional dan non tradisional

    jika ada hubungan dengan militer sebaiknya gunakan buku-buku militer (karena pengertian anda kurang sesuai)

    BalasHapus
  2. kenapa yang di cari gak dapet dapat y susah amat.

    BalasHapus
  3. Kurang mengerti tentang penjelasan anda
    tolong buatkan lagi penjelasan yang lebih akurat

    BalasHapus